thePencil.org Ar RaiYan: Kisah karpet yang kotor

Sunday, August 21, 2011

Kisah karpet yang kotor

saya selalu geram bila tengok anak-anak suka lompat-lompat atas katil dan main gunting dan gunting kertas-kertas jadik kepingan kecil, kalau kaler buku, abis sepah kaler pensil kena kutip selalu, main mainan sepah sana sini sampai sakit kaki terpijak mainan, tuang bedak atas lantai abis putih n licin lantai. rupanya saya tak terpikir bahawa itu tandanya, saya ada anak dan anak-anak itu masih berada dekat dengan saya. mereka masih ada dan selamat di rumah. ya allah.... bersyukur mereka masih bersama saya... 

----------------------------------------------------
Sebuah kisah benar..Ada seorang suri rumah tangga yang memiliki 4 orang anak laki-laki. Semua urusan perbelanjaan, cucian, makan, kebersihan dan kekemasan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah nampak selalu rapi, bersih dan teratur ; suami serta anak-anaknya sangat menghargai usaha dan pengabdiannya itu.
Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia akan mudah meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak kotor di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 orang anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan sangat2 menyiksanya Atas saranan keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita ibu ini dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum dan berkata kepada sang ibu : "Ibu , harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan" Ibu itu kemudian menutup matanya. "Bayangkan rumah ibu yang rapi dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak kaki, bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia nampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu.Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau senda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu yang
kasihi". Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu dan kotoran disana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu". Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb. "Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya "Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah benar, Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita, sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya. Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang : Saya BERSYUKUR;

1.Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya IA BERSAMAKU bukan dengan orang lain.

2.Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya IA berada DI RUMAH dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.


3.Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka DI RUMAH dan tidak jadi anak jalanan.

4.Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya SAYA BEKERJA dan DIGAJI TINGGI.


5.Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi BANYAK TEMAN.

6.Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya CUKUP MAKAN.

7.Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih MAMPU bekerja keras.

8.Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada KEBEBASAN BERPENDAPAT.


9.Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih HIDUP.


10.Untuk setiap permasalahan hidup yang saya hadapi, karena itu artinya Tuhan sedang membentuk dan menempa saya untuk menjadi lebih baik lagi.
Terimakasih telah membaca, sila share jika ini bermanfaat.
Salam perjuangan!!

3 comments:

undark said...

k.najah, terima kasih utk ingatan dlm entri ni.. perlu selalu pikir positif!

HappyIrfa said...

najah..saya nak share yer

Luna said...

penah baca yg English version.'the positive side of everything'...


untuk rasa marah kepada budak2 bising jerit2 nakal2 itu tandanya kita ada anak yg sihat dan normal.hehe

 
blog template by suckmylolly.com